Laju Reaksi

Thanks,..

Donderdag, 18 April 2013

Laporan Praktikum



I.  JUDUL
PEMANFAATAN ALUMINIUM
DARI KALENG BEKAS MINUMAN
II.TUJUAN :
Membuat gas hidrogen dengan mereaksikan logam Al dengan basa.
  III.Dasar Teori
A . Pengertian
Aluminium adalah logam berwarna putih keperakan yang lunak. Aluminum, Al, merupakan anggota golongan 13, berada sebagai aluminosilikat di kerak bumi dan lebih melimpah daripada besi.  Mineral aluminum yang paling penting dalam metalurgi adalah bauksit, AlOx (OH)3-2x (0 < x <1). . Sifat aluminum dikenal dengan baik dan aluminum banyak digunakan dalam keseharian, misalnya untuk koin, panci, kusen pintu, dsb. Logam aluminum digunakan dengan kemurnian lebih dari 99%, dan logam atau paduannya (misalnya duralium) banyak digunakan.
Aluminium adalah logam yang paling banyak terdapat di kerak bumi, dan unsur ketiga terbanyak setelah oksigen dan silikon. Aluminium terdapat di kerak bumi sebanyak kira-kira 8,07% hingga 8,23% dari seluruh massa padat dari kerak bumi, dengan produksi tahunan dunia sekitar 30 juta ton pertahun dalam bentuk bauksit dan bebatuan lain (corrundum, gibbsite, boehmite, diaspore, dan lain-lain) (USGS). Sulit menemukan aluminium murni di alam karena aluminium merupakan logam yang cukup reaktif.
Aluminium tahan terhadap korosi karena fenomena pasivasi. Pasivasi adalah pembentukan lapisan pelindung akibat reaksi logam terhadap komponen udara sehingga lapisan tersebut melindungi lapisan dalam logam dari korosi.
Aluminium murni adalah logam yang lunak, tahan lama, ringan, dan dapat ditempa dengan penampilan luar bervariasi antara keperakan hingga abu-abu, tergantung kekasaran permukaannya. Kekuatan tensil aluminium murni adalah 90 MPa, sedangkan aluminium paduan memiliki kekuatan tensil berkisar 200-600 MPa. Aluminium memiliki berat sekitar satu pertiga baja, mudah ditekuk, diperlakukan dengan mesin, dicor, ditarik (drawing), dan diekstrusi.
Resistansi terhadap korosi terjadi akibat fenomena pasivasi, yaitu terbentuknya lapisan aluminium oksida ketika aluminium terpapar dengan udara bebas. Lapisan aluminium oksida ini mencegah terjadinya oksidasi lebih jauh. Aluminium paduan dengan tembaga kurang tahan terhadap korosi akibat reaksi galvanik dengan paduan tembaga.
Aluminium juga merupakan konduktor panas dan elektrik yang baik. Jika dibandingkan dengan massanya, aluminium memiliki keunggulan dibandingkan dengan tembaga, yang saat ini merupakan logam konduktor panas dan listrik yang cukup baik, namun cukup berat.
Aluminium murni 100% tidak memiliki kandungan unsur apapun selain aluminium itu sendiri, namun aluminium murni yang dijual di pasaran tidak pernah mengandung 100% aluminium, melainkan selalu ada pengotor yang terkandung di dalamnya. Pengotor yang mungkin berada di dalam aluminium murni biasanya adalah gelembung gas di dalam yang masuk akibat proses peleburan dan pendinginan/pengecoran yang tidak sempurna, material cetakan akibat kualitas cetakan yang tidak baik, atau pengotor lainnya akibat kualitas bahan baku yang tidak baik (misalnya pada proses daur ulang aluminium). Umumnya, aluminium murni yang dijual di pasaran adalah aluminium murni 99%, misalnya aluminium foil.

B.      Kandungan Atom/Unsur dan Ikatan
Aluminium disimbolkan dengan Al, dengan nomor atom 13 dalam tabel periodik unsur. Bauksit, bahan baku aluminium memiliki kandungan aluminium dalam julah yang bervariasi, namun pada umumnya di atas 40% dalam berat. Senyawa aluminium yang terdapat di bauksit diantaranya Al2O3, Al(OH)3, γ-AlO(OH), dan α-AlO(OH)
Isotop aluminium yang terdapat di alam adalah isotop 27Al, dengan persentase sebesar 99,9%. Isotop 26Al juga terdapat di alam meski dalam jumlah yang sangat kecil. Isotop 26Al merupakan radioaktif dengan waktu paruh sebesar 720000 tahun. Isotop aluminium yang sudah ditemui saat ini adalah aluminium dengan berat atom relatif antara 23 hingga 30, dengan isotop 27Al merupakan isotop yang paling stabil.

IV. ALAT DAN BAHAN
NO
Nama Alat dan Bahan
Jumlah
1
Kaleng bekas minuman

2
Larutan NaOH

3
Botol

4
Balon

5
Gelas ukur

6
Korek api


V.Prosedur Kerja
1.    Dibersihkan kaleng bekas kemasan minuman ringan sehingga bebas dari cat atau plastic yang melapisinya.
2.    Dipotong – potong sebagian kaleng menjadi ukuran sekitar 2 x 1 cm.
3.    Ditimbang potongan logam Al sekitar 5 gram (catat berat sebenarnya secara tepat lalu hitung molnya).
4.    Diambil 50 ml larutan NaOH 0,1 M lalu masukan kedalam botol.
5.    Dimasukan potongan logam Al yang sudah di ketahi ke dalam larutan NaOH dan segera tutup rapat dengan balon yang tersedia, pastikan tidak ada kebocoran.
6.    Sekali-sekali diguncangkan botol dan amati apa yang terjadi.
7.    Setelah reaksi selesai, lepaskan balon dan usahakan tidak ada gas yang lepas.
8.    Diuji gas yang di peroleh dengan menyulutkanya dengan bara api. (hati-hati : dapat terjadi ledakan).



VI. Hasil Pengamatan
Perlakuan
Hasil pengamatan
Ø Bersihkan kaleng bekas kemasan minuman ringan sehingga bekas dari  cat atau plastik yang melapisinya

Ø Pmenjotong-potong sebagian kaleng menjadi ukuran 2 x 1 cm
Ø Timbang potongan Al sekitar 5 gram ( catat berat sebenarnya secara tepat lalu hitung molnya)

Ø Ambil 50 ml laruran NaOH 0.1 M lalu masukan kedalam botol

Ø Masukan potongan logam Alyang sudah diketahui kedalam larutan  NaOH dan segera tutup rapat dengan balon yang tersedia. Pastikan tidak ada kebocoran.

Ø Sekali-sekali diguncangkan botol dan amati apa yang terjadi.

Ø Setelah reaksi selesai, lepaskan balon dan usahakan tidak ada gas yang lepas

Ø Diuji gas yang di peroleh dengan menyulutkanya dengan bara api. (hati-hati : dapat terjadi ledakan).

Massa aluminium = 5,00 gram
 V NaOH = 50 ml

Larutan NaOH berwarna       bening saat larutan NaOH + logam Al, larutan berbuih dan bergelembung, kira-kira 1 menit balon mulai bergelembung berisi gas H2 yang dihasilkan dari reaksi NaOH + Al,


Erlenmeyer terasa panas, menandakan reaksi eksoterm,

Balon bertambah besar,dan buih dari hasil reaksi NaOH + Al semakin sedikit,

Balon yang berisi H2 bunyinya nyaring dan berwarna orange dari hasil ledakan,

Balon yang berisi gas biasa bunyinya kurang nyaring dan tidak ada warna dari hasil ledakan.


VII.  PEMBAHASAN DAN JAWABAN TUGAS
A. PEMBAHASAN
Aluminium merupakan logam amfoter. Mengapa dikatakan amfoter? Apa arti amfoter? Suatu zat bersifat amfoter berarti zat tersebut dapat bersifat asam saat direaksikan dengan basa kuat, misalnya NaOH. Dapat bersifat basa apabila zat tersebut direaksikan dengan asam kuat, contohnya asam khlorida, HCl
Ketika sepotong lempeng aluminium atau aluminium foil dicelupkan ke dalam larutan asam khlorida, terbentuk gas yang tidak berwarna dan tidak berbau. Gas ini tentulah gas hidrogen yang berasal dari ion-ion H+ asam khlorida. Apakah reaksi ini tergolong reaksi redoks? Ya, jelas reaksi redoks.
Pada percobaan ini pengikisan permukaan logam aluminium dianggap sebagai tolok ukur, sehingga semakin banyak pengikisan permukaan logam aluminium oleh larutan perendaman maka semakin banyak nuklida-nuklida aktif yang ikut lepas. Namun pada pelaksanaannya pengikisan permukaan juga dibatasi, dari segi teknis maksimum tebal pengikisan permukaan yang diperbolehkan adalah 0,50 mm.
Aluminium oksida juga dapat menunjukkan sifat asamnya, dapat dilihat dalam reaksi dengan basa seperti larutan natrium hidroksida. Berbagai aluminat dapat terbentuk – senyawa dimana aluminium ditemukan dalam ion negatif. Hal ini mungkin karena aluminium memiliki kemampuan untuk membentuk ikatan kovalen dengan oksigen. Pada contoh natrium, perbedaan elektronegativitas antara natrium dan oksigen terlalu besar untuk membentuk ikatan selain ikatan ionik. Tetapi elektronegativitas meningkat dalam satu periode – sehingga perbedaan elektronegativitas antara aluminium dan oksigen lebih kecil. Hal ini menyebabkan terbentuknya ikatan kovalen diantara keduanya. Dengan larutan natrium hidroksida pekat yang panas aluminium oksida bereaksi menghasilkan larutan natrium tetrahidroksoaluminat yang tidak berwarna.
Pada prcobaan ini kelarutan kerapatan alumnium terhadap perendaman menggunakan larutan perendam NaOH. Yaitu pada perendaman menggunakan larutan NaOH, menunjukkan bahwa dengan semakin meningkatnya konsentrasi NaOH dan waktu proses perendaman maka dapat menaikkan kelarutan aluminium. Hal ini menunjukkan semakin banyak logam aluminium yang terkikis berarti semakin banyak nuklidanuklida yang menempel di logam yang terlepas.
REAKSI :
2 Al(s) + 2 NaOH(aq) + 6 H2O(l) → 2 NaAl(OH)4(aq) + 3 H2(g)
2 Al(s) + 2 OH-(aq) + 6 H2O(l) → 2 Al(OH)4-(aq) + 3 H2(g)
Al membentuk ion Al(OH)4-; berarti bilangan oksidasinya berubah dari nol menjadi +3. Sedang bilangan oksidasi H dari +1 menjadi nol. Berarti baik dalam asam maupun basa, reaksi redoks yang terjadi sebagai akibat dari sifat keamfoteran Al, ternyata perubahan bilangan oksidasinya sama.
Sebelumnya untuk membuktikan bahwa hidrogen dapat dipakai sebagai pendesak air karena sifatnya yang tak larut dalam air terlebih dahulu hidrogen hasil reaksi dialirkan ke dalam tabung reaksi yang berisi dengan air dan kemudian tampak volume air dalam tabung semakin berkurang yang tergantikan oleh posisi hidrogen yang berupa udara kosong. Cara pembuatan hidrogen yang dalam praktikum ini adalah dengan mereaksikan aluminium dengan basa kuat. Aluminium merupakan logam yang berwarna putih abu-abu (silver) yang melebur pada  suhu 659 C0, dan bila terkena udara akan teroksidasi pada permukaannya. Pembentukan hidrogen ini terjadi menurut persamaan :
2Al(s) + 6 NaOH (aq)dipanaskan 2Na3 AlO3(aq) + 3H2(g)

B.  JAWABAN TUGAS
1.         2 Al(s) + 2 NaOH(aq) + 6 H2O(l) → 2 NaAl(OH)4(aq) + 3 H2(g)
2 Al(s) + 6 NaOH (aq) dipanaskan 2 Na3 AlO3(aq) + 3H2(g)

2.         Diketahui : m Al = 5 gram
       Mr = 27 gram
Di tanya : Volume gas = ?
Penyelesaian :
                n =  massa
                            Mr
                  = 5 gram
                  27 gram/mol
                  = 0,185 mol
Jawaban :
Vm = 22,4 liter /mol
Volume gas = n X Vm
                    = 0,185 mol x 22,4 Liter/mol
                    = 4,1 L
3.         Manfaat aluminium
·           menghilangkan karat
Remas selembar foil, lalu gunakan untuk menggosok titik-titik karat dari bumper mobil dan batang besi tirai kamar mandi.
·           Dijadikan corong
 Anda kesulitan memasukkan refill minyak ke dalam botolnya? Gulung selembar foil membentuk kerucut, rekatkan dengan selotip, lalu jadikan corong. Mulailah menuang minyak menggunakan corong foil ini.
·           Memancakan panas
Bungkus sepotong kayu lapis dengan foil, lalu selipkan di belakang radiator untuk merefleksikan panas ke ruangan. Tentunya, hal ini berlaku jika Anda tinggal di tempat yang berhawa dingin.
·           Memelihara sabut baja
Letakkan sabut penggosok Anda di atas foil untuk menjauhkannya dari karat.


·           Mengilapkan perak
Bungkus panci kaca dengan foil, tambahkan beberapa sendok makan baking soda, isi panci dengan air mendidih. Setelah itu, cemplungkan peralatan makan perak yang ternoda untuk membersihkannya dengan cepat.

VIII. KESIMPULAN DAN SARAN
A.  KESIMPULAN
             Pada percobaan ini aluminium merupakan logam amfoter. Ketika sepotong lempeng aluminium di celupkan ke dalam larutan NaOH, maka terjadilah suaatu reaksi pengikisan permukaan logam aluminium. Pengikisan ini
 di anggap sebagai tolak ukur, sehingga semakin banyak pengikisan permukaan logam aluminium oleh larutan perendam (NaOH), Semakin banyak  pula nuklida-nuklida aktif  yang ikut lepas maka terbentuklah gas yang tidak berwarna dan tidak berbau. Gas ini tentulah gas  hidrogen yang berasal dari ion-ion H+.
                Reaksi logam aluminium dan larutan NaOH
2 Al(s) + 2 NaOH(aq) + 6 H2O(l) → 2 NaAl(OH)4(aq) + 3 H2(g)
2 Al(s) + 6 NaOH (aq) dipanaskan 2 Na3 AlO3(aq) + 3H2(g)

B. Saran
             Percobaan ini dilakukan sudah baik, namun cobalah untuk lebih teliti lagi, misalnya dalam memilih alat dan berhati2 dalam melakukan uji warna pada gas hidrogen saat pembakaran balon.








IX Daftar Pustaka
Ahmad, Zaki.2003. "The properties and application of scandium-reinforced aluminum". JOM
Anonim. Aluminium, dari [[http://webmineral.com/data/Aluminum.shtml]] diunduh pada tanggal 23 Mei 2012
Atkins, P.W. Kimia Fisika Edisi Keempat Jilid 1. Erlangga : jakarta. 1999. Bab IX halaman 243
Greenwood, Norman N.; Earnshaw, A.1997. Chemistry of the Elements (2nd ed.), Oxford: Butterworth-Heinemann.

Petrucci, H. Ralph dan Suminar. Kimia Dasar Prinsip dan Terapan              Modern. Edisi keempat. Erlangga : Jakarta. 1987. Bab 24. Halaman    180.
Sukardjo. Kimia Koordinasi. Edisi Revisi (Ketiga). Rineka Cipta : Jakarta. 1992. Bab VI. Halaman 134.

X. Lampiran fotocopy laporan sementara


Laporan Anorganik II




I.       JUDUL PERCOBAAN
Pembuatan Natrium Tiosulfat

II.    TUJUAN PERCOBAAN
Mempelajari pembuatan garam natrium tiosulfat dan sifat – sifat kimianya.

III. LANDASAN TEORI
Natrium tiosulfat merupakan garam dari tiosulfat yang termasuk kedalam jenis asam polisulfomonosulfat. Selain itu asam ini juga dikenal dengan vanadisulfanoat. Kedua asam ini merupakan runtutan dari asam polisulfana (H2Sx). Ion tiosulfat ini memiliki geometri tetrahedron terdistorsi. Natrium dialam hanya tersedia dalam wujud besi oksida karbonat, sedangkan sulfida tidak ditemukan dalam bentuk murninya. Sedangkan natrium yang ada dilaut berupa senyawa NaCl. Pada organisme (hewan) ion natrium sangat berperan sekali yaitu sebagai konduksi saraf dan dapat juga digunakan untuk menjaga keseimbangan osmosis dalam darah. Pada tumbuhan ion natrium  berfungsi sebagai zat yang esensial untuk pertumbuhan. Natrium tiosulfat merupakan salah satu senyawa dari natrium, dengan rumus kimianya adalah Na2S2O3.5H2O
Pembentukan garam tiosulfat berdasarkan reaksi yang terjadi antara belerang dan tiosulfit yaitu : SO32- + S → S2O32- . Bila dalam reaksi diatas ditambahkan belerang dalam jumlah yang berlebih maka semua ion sulfit akan dapat membentuk ion S2O32-.
Pembuatan natrium tiosulfat dapat juga dilakukan dengan menggunakan H2S sebagai bahan baku dan juga SO3. Namun  sangat disayangkan cara ini sangat sulit dilakukan. Dalam bidang kimia analitik, natrium tiosulfat ini merupakan larutan standar yang digunakan  untuk titrasi iodometri dan hanya terdapat dalam bentuk pentahidrat, sehingga harus dilakukan standarisasi dengan larutan standar primer.
Asam tiosulfat tidak stabil pada suhu kamar, Asam ini dipisahkan pada suhu 78oC dari persamaan reaksi : SO3 + H2S H2S2O3
Atau dari reaksi  :
HO3SCl + H2S H2S2O3 + HCl
Molekul gas sulfur tioksida SO3 memiliki struktur segitiga datar dapat mengalami resonansi dengan melibatkan ikatan πp – πp dari S-O. Adanya orbital P untuk ikatan dan orbital d kosong dari S menyebabkan panjang S-O sangat pendek yaitu 1,43 A. Ion tio sulfat memiliki struktur [ S-SO3 ]2- dengan panjang gelombang ikatan S-S dan S-O masing-masing 1,99 + 0,10 dan 1,48 + 0,6Å, panjang ikatan S-S mendekati panjang S-O menunjukkan bahwa dalam ikatan S-S juga terlibat ikatan II (pi).
Garam yang biasa disebut tiosulfat stabil dan berjumlah banyak. Tiosulfat dibuat dengan memanaskan alkali/larutan sulfit dengan S dan juga dengan mengoksidasi polisulfida dengan air seperti reaksi berikut :
Na2S2O3 + S → Na2S2O3
2NaS3 + 3O2 → 2Na2S2O3 +2S
Selain itu natrium tiosulfat dapat dibuat dari SO2 dengan reaksi sebagai berikut :
2SO2 (aq) + O2(g) → SO3(g)
Kemudian direaksikan dengan Na2S2O3 dan H2O
reaksi :
2SO2 + Na2CO3 + H2O → 2NaHSO3 + CO2
produk (NaHSO3) direaksikan lagi dengan Na2CO3
reaksi :
2NaHSO3 + Na2CO3 → 2Na2SO3 + CO2 + H2O
terakhir Na2SO3 direaksikan dengan S dengan bantuan pemanasan.
Reaksi :
Na2S2O3 + S → Na2S2O3
Dalam percobaan ini akan dipelajari cara pembuatan garam natrium tiosulfat dari reaksi antara sulfur dengan natrium sulfit. Struktur molekul sulfur ada dua jenis yaitu rombik dan monoklin. Pada temperature dibawah 96oC  stabil dalam bentuk rombik dan diatas temperature tersebut stabil dlam bentuk monoklin. Dalam dua struktur tersebut molekul sulfur membentuk cincin yang mengandung 8 atom. Agar sulfur dapat bereaksi maka harus dilakukan pemutusan cincin yang ada terlebih dahulu. Oleh karena itu, mekanisme reaksi yang melibatkan sulfur sangat rumit.

IV. ALAT DAN BAHAN
A.    ALAT
NO
ALAT
UKURAN
JUMLAH
1
Alat refluks

1 set
2
Batang pengaduk

1
3
Gelas ukur

2
4
Pembakar spritus

1
5
penjepit

1
6
Tabung reaksi

2
7
Neraca digital

1
8
Kertas saring

Secukupnya
9
Pipet

2
10
Botol semprot

1

B. BAHAN
NO
BAHAN
UKURAN
JUMLAH
1
Natrium sulfit
-
25 gram
2
Serbuk belerang
-
4 gram
3
Kristal Na2S2O3.5H2O
-
secukupnya
4
HCl encer
-
3 mL
5
Aquades
-
secukupnya
6
 Larutan Iod dalam KI
-
2 mL





V. PROSEDUR KERJA
A. PEMBUATAN  NATRIUM TIOSULFAT—HIDRAT

1.      alat  refluks disiapkan, kemudian dimasukkan 25 gram natrium sulfit ke dalam labu refluks
2.      ditambahkan 15 mL air dan 4 gram serbuk belerang, kemudian direfluks selama 1 jam
3.      setelah itu larutan didinginkan dan sisanya disaring. Filtrate dipindahkan ke dalam cawan pengupan dan uapkan sampai volume ±  5 mL.
4.      biarkan larutan dingin dan keringkan kristal yang terbentuk dengan menekan kristal diantara dua kertas saring, kemudian kristal ditimbang.

B. MEMPELAJARI SIFAT – SIFAT KIMIA NATRIUM SULFAT
1. Pengaruh Pemanasan
beberapa Kristal Na2S2O3.5H2O dalam tabung reaksi dipanaskan. Bagaimana stabilitas Kristal tersebut?
2. Reaksi dengan Iod
1 gram Kristal natrium tiosulfat dengan 10 mL air, dan direaksikan dengan 2 mL larutan iod secara berlebihan.
3. pengaruh asam encer
3 mL larutan natrium tiosulfat dengan asam klorida encer direaksikan dengan volume yang sama. Setelah beberapa menit, dan diamati isi tabung reaksi dan bau yang ditimbulkan.








VI.DATA HASIL PENGAMATAN
NO
PERLAKUAN
HASILPENGAMATAN
1
a.       Pembuatan natrium tiosulfat-5-hidrat
1)      25 gram natrium sulfit + 15 mL air + 4 gram serbuk belerang


2)      Campuran direfluks selama 1 jam












3)      Larutan didinginkan, disaring, dan diuapkan


4)      Filtrate didiamkan


1.      Larutan berwarna bening dan tidak menyatu (serbuk belerang berada diatas air)

2.      Temperatur campuran hangat, berwarna kuning dan tidak menyatu (serbuk belerang berada diatas air)
Labu refluks terasa panas dan terdapat uap didalamnya, pada 15 menit uap didalamnya sebagian menetes
Setelah beberapa menit larutan mendidih, berbau ( bau belerang) dan campuran membentuk 2 lapisan, pada bagian atas berwarna kuning dan lapisan bawah bening. Larutan  semakin berbau menyengat

3.      Warna larutan kuning dan volume filtrat 17 ml.  Residu 30,327 gram. T1 = 155OC dan T2 = 200OC.

4.      Setelah dimasukan didalam es terbentuk endapan kristal natrium tiosulfat massanya 6,705 gram.


b.      Mempelajari sifat – sifat kimia natrium sulfat

1)      Natrium tiosulfat pentahidrat dipanaskan





2)      1 gram Kristal natrium tiosulfat + 10 ml air  +  2 ml iod berlebih












3)      3ml natrium tiosulfat + 3 ml asam klorida encer, didiamkan



1.      Bentuk awal Na2S2O3.5H2O adalah dalam bentuk Kristal berwarna putih pekat. Setelah dipanaskan Kristal mencair dengan cepat dan tidak berwarna serta berbau.

2.      Kristal Na2S2O3.5H2O dilarutkan dalam 10 ml air menjadi larutan yang tidak berwarna. Setelah ditambahkan iod 10 tetes, pada awalnya larutan air dengan Na2S2O3.5H2O tidak menyatu dengan iod, tampak larutan berwarna ungu dari iodidanya. Setelah beberapa waktu larutan mulai menyatu antara iod dengan air dan Na2S2O3.5H2O.terbentuk endapan putih dan terdapat serbuk putih melayang pada bagian atas larutan dan tercium bau belerang.
3.      Setelah ditetesi HCl encer awalnya larutan tidak berwarna, setelah beberapa menit larutan berubah menjadi putih keruh dan berbau.







VII. PEMBAHASAN
Natrium Tiosulfat (Na2S2O3) adalah salah satu jenis dari garam terhidrat. Garam terhidrat adalah garam yang terbentuk dari senyawa-senyawa kimia yang dapat mengikat molekul-molekul air pada suhu kamar. Ion tiosulfat dapat diperoleh secara cepat dengan cara mendidihkan belerang dengan non sulfit atau dengan cara mendekomposisi ion ditionit. Garam alkali tiosulfat banyak diproduksi terutama untuk kebutuhan dibidang fotografi, dimana garam ini digunakan untuk melarutkan perak bromida yang tidak bereaksi dalam suatu emulsi. ion tiosulfat dapat membentuk kompleks Ag(S2O3)- dan Ag(S2O3)23- Ion tiosulfat dapat juga membentuk kompleks dengan ion-ion logam lain.
Dalam percobaan ini akan dipelajari bagaimana cara pembuatan garam natrium tiosulfat dan mempelajari sifat-sifatnya. Berbagai macam cara dapat dilakukan untuk mempelajari sifat-sifat dari garam natrium tiosulfat. Diantaranya dalam percobaan ini akan dilakukan pemanasan, reaksi terhadap iod, dan pengaruh terhadap asam encer. Garam natrium tiosulfat (Na2S2O3) merupakan suatu senyawa tiosulfat dari alkali (natrium). Garam ini memiliki sifat hidroskopis (mudah menyerap air di udara) sehingga seringkali dijumpai dalam bentuk hidratnya dibandingkan bentuk murninya. Bentuk hidrat dari garam natrium tiosulfat paling banyak dalam bentuk 5-hidrat dan 10-hidratnya, karena garam natrium tiosulfat berbentuk serbuk putih, tetapi untuk mereaksikannya tetap dalam bentuk padat karena tingkat kelarutannya yang cukup tinggi dan dapat pula dijadikan dalam bentuk larutan. Kebanyakan tiosulfat yang pernah dibuat dapat larut dalam air, tetapi dalam bentuk timbal, perak atau barium hanya larut sedikit sekali. Banyak dari tiosulfat ini larut dalam larutan natrium tiosulfat berlebih, membentuk garam kompleks. Garam-garam tiosulfat merupakan senyawa kompleks dimana kation yang mengikat tiosulfat merupakan atom pusat yang menyediakan orbital kosong(elektrofilik) sehingga dapat mengikat ligan anion yaitu tiosulfat yang memiliki elektron bebas sehingga dapat membentuk ikatan kovalen koordinasi.
Dalam percobaan ini diawali dengan merefluks natrium sulfit dan belerang dalam sebuah labu alas bulat, tujuan dari refluks ini yakni untuk mempercepat terjadinya reaksi dan dapat maksimal (sempurna). Proses refluks dilakukan pada percobaan ini agar struktur molekul sulfur yang membentuk cincin yang mengandung 8 atom (S8) dapat diputuskan, sehingga dapat bereaksi dengan natrium sulfit. Agar pemutusan cincin S8 ini berlangsung dengan sempurna, maka proses refluks dilakukan selama 1 jam. Perefluksan terus dilanjutkan sampai pada campuran terbentuk seperti 2 lapisan, yaitu lapisan agak bening dibawah dan lapisan kuning diatas. Setelah terbentuk 2 lapisan tersebut, perefluksan dihentikan dan disaring dengan kertas saring agar terpisah dari zat pengotornya. Tetapi sebelum itu filtrat natrium tiosulfat didinginkan terlebih dahulu dengan es batu sampai terbentuk kristal putih. Es batu berfungsi agar kristal dapat terbentuk dengan cepat. Setelah disaring, filtrat yang diperoleh kemudian diuapkan sampai terbentuk kristal. Proses penguapan ini untuk menghilangkan molekul air yang bukan pentahidrat.
Dari percobaan ini diperoleh berat endapan sebesar 6,705 gram. Adapun reaksi yang berlangsung pada pembuatan Na2S2O3 ini adalah :
Na2S2O3 + S + 5H2O → Na2S2O3.5H2O

Mempelajari Sifat – Sifat Natrium Tiosulfat
1.       Pengaruh Pemanasan
Percobaan selanjutnya yaitu akan mempelajari sifat – sifat natrium tiosulfat yaitu mengetahui pengaruh pemanasan terhadap natrium tiosulfat pentahidrat. Pada  percobaan ini kristal Na2S2O3.5H2O dipanaskan dan diperoleh bahwa kristal natrium tiosulfat pentahidrat meleleh jika dipanaskan. Pada praktikum kali ini uji pengaruh pemanasan hanya dilakukan pada natrium tiosulfat pentahidarat, karena tidak tersedianya natrium dekahidarat pada laboratorium sehingga kita tidak dapat membandingkan stabilitas termal kedua kristak tersebut. Menurut literatur jika dibandingkan dengan natrium tiosulfat dekahidrat,maka natrium tiosulfat pentahidrat lebih cepat meleleh karna natrium tiosulfat dekahidrat lebih banyak mengandung air. Maka  dapat disimpulkan bahwa Tiosulfat disini bersifat hidroskopis.
persamaan reaksi :
Na2S2O3.5H2O (s ) → Na2S2O3 (aq) + 5H2O (l)
2.      Reaksi dengan Iod
Pada percobaan ini 1 gram Na2S2O3  yang dilarutkan dengan 10 mL H2O menghasilkan larutan yang bening kemudian ditambahkan dengan larutan Iod berlebih sebanyak  2 mL I2 menghasilkan larutan yang bening dan setelah beberapa waktu terdapat endapan putih.. Reaksi yang terjadi merupakan reaksi Redoks (Reduksi Oksidasi) yang ditandai dengan adanya perubahan warna Iod.
Reaksinya sebagai berikut :
Reduksi :         I2      +   2e  → 2I-
Oksidasi :        2S2O32-     S4O62-    +    2e
2S2O32-   +    I2        S4O62-    +    2I-
Jadi : 2 Na2S2O3 + I2 → 2 NaI + Na2S4O6
Pada persamaan reaksi tersebut, terlihat bahwa iod berfungsi sebagai oksidator yang mengoksidasi ion tiosulfit atau natrium tiosulfat mereduksi iod., dan iod sendiri mengalami reduksi dari I2 menjadi I-.


3.      Pengaruh Asam Encer

Pada  percobaan ini 3 mL Na2S2O3 direaksikan dengan 3 mL HCl encer  menghasilkan larutan bening dan terbentuk endapan sehingga larutan menjadi warna putih susu  yang merupakan endapan belerang dan berbau menyengat karena terdapat gas SO2. Dalam percobaan ini asam klorida berfungsi untuk menguapkan sulfur dioksida dan mengendapkan sulfur. Itulah sebabnya pada reaksinya menimbulkan bau menyengat  yang merupakan gas SO2.
Reaksinya adalah sebagai berikut :
~        Na2S2O3 + 2HCl→ H2S2O3 + 2NaCl
~        H2S2O3  → SO2(g) + S(s) + H2O(l)

VIII. KESIMPULAN DAN SARAN
A.    KESIMPULAN
1.      Natrium tiosulfat pentahidrat dapat dibuat dengan cara mereaksikan natrium sulfit dan belerang dengan air dengan cara direfluks, disaring, diuapkan dan dikeringkan sampai terbentuk endapan.
2.      Sifat – sifat natrium tiosulfat adalah sebagai berikut :
~        Natrium tiosulfat bersifat hidrokopis. Bila kristal natrium tiosulfat dipanaskan akan melepaskan uap air yang dikandungnya, dimana kristal yang lebih banyak mengandung molekul air akan lebih lambat mencair dari pada yang sedikit mengandung molekul air.
~        Ion tiosulfat dapat mereduksi iod membentuk ion tetrationat .
~        Sulfur dapat dibebaskan dengan penambahan HCl encer pada natrium tiosulfat.


B.     SARAN
Diharapkan buat praktikan lebih teliti dalam memperhatikan kebersihan alat yang digunakan. Selain itu praktikan sebaiknya sebelum melakukan praktikum membaca terlebih dahulu metode kerja sehingga waktu yang diperlukan dapat seefisien mungkin digunakan.




IX. DAFTAR PUSTAKA
Cotton dan Wilkinson. 1989. Kimia Anorganik Dasar. Universitas Indonesia Press : Jakarta.
Jurusan Pendidikan Kimia UNPAR,  2012, Penuntun Praktikum Kimia Anorganik , Palangkaraya.
Kristian sugiarto, 2004. Kimia anorganik I. Yogyakarta : Jurusan Pendidikan Kimia FMIPA UNY
Mulyono, 2005. Kamus Kimia. Bandung : Bumi Aksara.
http://ms.wikipedia.org/wiki/Natrium_tiosulfat diakses pada tanggal 20 Mei 2012.


X. LAMPIRAN
~        Fotocopy Laporan Sementara Anorganik.